You're Here: Home » Telinga » Ipods dan Gangguan Telinga

Ipods dan Gangguan Telinga

Ipods dan Gangguan TelingaRagamObat.com – Dewasa ini, aktivitas manusia di dunia mengalami pertumbuhan dan perkembangan hingga dapat disebut sebagai adanya perubahan zaman. Demikian halnya dapat pula disebut adanya kemajuan sesuai zaman dan merupakan sebagai sunnatullah. Salah satunya adalah kemajuan bidang teknologi, yang di satu sisi dapat meningkatkan efektivitas kinerja atau meningkatkan semangat hidup. Namun, di sisi lain hal tersebut bisa pula menganggu kesehatan kita. Misalnya, perangkat canggih Ipods, sebuah alat portable player yang cukup canggih ini ternyata dapat menimbulkan penyakit telinga.

Musik merupakan salah satu cara orang lain untuk mendorong dirinya agar semangat dan ada yang beranggapan musik dapat membuat hidup lebih hidup. Namun, apa yang terjadi bila musik membuat telinga berdengung? Tentu bukanlah musik yang membuat telinga berdengung, tapi gaya hidup seseorang saat mendengarkan musik yang membuat pendengarannya tidak tajam lagi. Para peniliti di Australia menemukan sekitar seperempat dari pengguna iPods mengalami gangguan telinga (pendengaran). Bukan hanya itu, iPods mania atau pengguna pemutar musik praktis  lainnya seringkali mengalami telinga berdengung atau masalah pendengaran lainnya. Kecenderungan telinga mengalami dengung ini lebih banyak ditemukan pada pengguna iPods yang secara berlebihan memutar volume musik sampai sekeras-kerasnya.

Dalam National Acoustic Laboratories di Sidney, telah meminta kepada para respoden untuk mendengarkan musik dengan volume yang setara dengan perangkat bermesin motor (bor misalnya). Para peneliti ini kemudian menemukan satu fakta bahwa tingkat dengungan akan meningkat karena pendengaran tidak dapat lagi mengadopsi kebiasaan normal telinga mereka. Lalu, penelitian itu mencatat sekitar 25 persen responden cenderung mendengarkan iPods ataupun perangkat musik sejenisnya dalam kapasitas ‘bising’ sebanding dengan tingkat kebisingan suara/bunyi pada alat pemotong rumput ataupun perangkat yang menggunakan mesin motor dengan rata-rata intensitasnya mengalami diatas 85 decibels.

Pada ukuran normal, mereka dengan pendengaran yang normal audiogramnya terletak antara 0 sampai 20 decibels. Jika mengalami lebih dari 30 decibels dengan rentangan sampai 100 decibels, maka terindikasi adanya gangguan pada pendengaran (telinga). Ukuran intensitas pendengaran normal tercatat dalam bentuk audiogram, dimana audiogram yang terletak antara 30 decibel sampai 40 decibels termasuk gangguan ringan. Disamping itu, bila terletak antara 40 sampai 60 decibels termasuk dalam skala sedang. Sedangkan, jika terletak antara 60 sampai 90 decibels maka sudah dianggap gangguan berat (parah). Sebagai gambaran, bunyi mesin bor jalanan sama dengan ukuran 100 desibel atau mesin pesawat terbang mencapai 120 desibel. Sebaliknya, ruangan yang tenang kira-kira sekitar 30 sampai 40 desibel.

Menikmati alunan musik rock, menghadiri konser musik, bekerja di pabrik, mendengarjan musik sambil berkendara atau hanya mendengar musik di tempat tidur, bagaimana pun kondisinya jika hal itu membuat telinga terganggu maka sudah dapat dianggap kebisingan. Secara normal akan lebih bijak bila mendengarkan musik dalam frekuensi normal. Menurut Professor Harvey Dillon, seorang penggagas penelitian, mengatakan gangguan-gangguan itu belum tampak dalam waktu dekat, namun tidak menutup kemungkinan dapat memicu gangguan telinga yang lebih berat beberapa tahun akan datang.

Dengan beberapa hal demikian, membuat organisasi kesehatan dunia (WHO) sedang menggarap proyek besar untuk mengetahui dampak dari kemajuan peralatan canggih dewasa ini terhadap kesehatan tubuh. Apa pasal? Alat-alat canggih yang berkembang di zaman sekarang diketahui dapat mengeluarkan medan listrik dan magnet yang cukup berbahaya bagi kesehatan manusia. Dr. Wilfried Kreisel seorang direktur eksekutif divisi kesehatan dan lingkungan (WHO) mengatakan bahwa proyek tersebut bukan hanya akan menjadi analisa ilmu pengetahuan, namun juga untuk membantu pemerintah dalam merumuskan ketentuan bersama tentang kesehatan masyarakat  teknologi baru.

Medan elektromagnetik mewakili satu dari banyak pengaruh lingkungan yang paling cepat tumbuh dalam kehidupan sehari-hari manusia, dimana ada keresahan dan prediksi tentang pengaruh itu menjadi meluas. Dampak kesehatan yang dimaksud seperti kanker, perubahan perilaku, kehilangan daya ingat, penyakit Parkinson dan alzhaimer, sindroma kekebalan tubuh melemah (AIDS), kematian mendadak, kematian bayi serta hal lainnya, termasuk tingkat bunuh diri diprediksi merupakan akibat dari medan elektromagnetik.

Namun, WHO justru mengkritik studi-studi sebelumnya sebagai studi yang tidak terarah sehingga hasilnya sering tidak bisa diperkaya secara bebas. Proyek tersebut bertujuan untuk memberikan kebebasan terhadap perbandingan tinjauan literatur ilmu pengetahuan dan juga untuk mengetahui serta mengisi kekosongan dalam ilmu pengetahuan dengan membentuk protokol bagi pelaksanaan riset. Proyek WHO itu akan memperkirakan dampak lingkungan dan kesehatan yang timbul dari medan magnetic dan listrik yang diterima dalam waktu yang beragam. Di samping itu, dengan frekuensi mulai dari nol hingga 300 GigaHertz (GHz) atau telah mendekati batas atas gelombang radio.

Lebih lanjut, WHO tidak akan meluncurkan proyek tersebut jika tidak adanya laporan mengenai dampak potensial yang dihasilkan dari medan elektromagnetik. Medan magnetik selalu berada sekitar kita  manusia, kemampuan untuk berjalan, pulang dan pergi, tinggal dan tidur yang setiap hari selalu berhadapan dengan manusia.