You're Here: Home » Maag » Mengatasi Maag dengan Aktifitas Puasa

Mengatasi Maag dengan Aktifitas Puasa

Mengatasi Maag dengan Aktifitas PuasaRagamObat.com – Puasa bagi seorang muslim tentu menjadi ibadah yang dianjurkan untuk dilaksanakan. Selain sebagai ibadah sunnah, pada moment tertentu puasa hukumnya menjadi wajib saat memasuki bulan ramadhan. Setiap menghadapi ramadhan, sakit maag sering kali menjadi alasan utama untuk tidak berpuasa karena mengalami sakit yang terus timbul bila menahan lapar selama berpuasa. Pertanyaannya kemudian, apakah benar penderita maag tidak dianjurkan berpuasa? Barangkali semua orang belum memahami makna sesungguhnya dari berpuasa. Umumnya orang memahami puasa hanya sekadar bermakna ibadah (pahala) saja, namun ternyata puasa mempunyai manfaat lebih pada kesehatan utamanya sangat berdampak positif bagi mereka yang sering mengalami gangguan maag.

Maag merupakan penyakit yang terjadi pada alat pencernaan baik usus maupun lambung yang ditandai adanya rasa kurang nyaman, mual, rasa sakit di ulu hati dan juga kembung. Pada beberapa kejadian, maag juga ditandai dengan adanya rasa sakit pada bagian perut yang sampai menusuk tulang belakang. Penyakit maag secara teori medis terbagi dua jenis yaitu dispepsia organik dan dispepsia non organik. Dispepsia organik merupakan penyakit maag dimana kondisinya semakin parah seperti luka/infeksi pada lambung, sedangkan dispepsia non organik penyakit maag yang biasanya dipicu oleh makanan pedas, stres, alkohol dan rokok. Gejala yang biasanya timbul saat maag yaitu mengalami rasa mual, eneg (muntah) atau kondisi perut terasa penuh. Saat berpuasa secara otomatis alkohol, rokok dan makanan pedas tidak masuk ke dalam tubuh sehingga dengan sendirinya penderita dispepsia non organik dapat mengurangi keluhan tersebut.

Sementara itu, bagi penderita dispepsia organik sebaliknya tidak disarankan untuk berpuasa. Walaupun tubuh dapat beradaptasi setelah 3-5 hari tetap saja lambung akan tetap dalam keadaan kosong. Pada kondisi itu, produksi gas dan asam lambung akan menjadi meningkat yang jadi pemicu timbulnya penyakit maag. Penderita dispepsia non organik yang tetap dapat berpuasa, bukan berarti tidak perlu khawatir pada maagnya, justru sebaliknya dianjurkan tetap mengonsumsi obat maag untuk mengurangi risiko maag yang semakin parah. Olehnya itu, penyakit maag yang diderita perlu diketahui dan dipantau apakah maag yang diderita parah atau tidak. Misalnya, ada yang mengalami sedikit kemerahan pada bagian lambungnya namun terasa sakit yang sangat luar biasa, begitupun sebaliknya saat lambung sudah pada kondisi semakin parah namun tidak mengalami rasa sakit apapun.

Salah satu cara untuk memantau adanya kelainan pada pencernaan yaitu dengan metode endoskopi atau meneropong saluran pencernaan untuk mengetahui apakah alat pencernaan mengalami luka atau tidak. Bagi penderita dispepsia non organik, upaya mencegah keluhan maag pada saat puasa dapat mengonsumsi obat maag yang dijual di pasaran dengan berbagai merek maupun harga. Obat maag yang bebas dijual umumnya bergolongan antasida yang berfungsi untuk melapisi lambung hingga menetralisir pengeluaran asam lambung yang terlalu banyak. Maka tidak mengherankan obat maag jenis ini banyak di jual bebas selama ramadhan. Olehnya itu, bagi penderita maag yang berpuasa disarankan untuk mengonsumsi obat-obat maag tersebut 30 menit sehabis makan guna perut tidak terasa kembung. Obat maag tersebut sebaiknya dikonsusmi pada saat berbuka puasa, sebelum tidur dan pada saat sahur.

Metode tersebut dianggap sangat efektif bagi penderita dispepsia non organik untuk mengurangi keluhan yang terjadi, berbeda halnya bagi penderita dispepsia organik yang pengobatannya sedikit rumit. Obat maag yang disarankan bagi penderita dispepsia organik adalah obat anti-asam yang mampu menekan pengeluaran asam lambung selama 12-24 jam. Obat maag jenis ini hanya bisa didapatkan dari resep dokter. Perlu diketahui, ada tiga golongan obat maag yaitu antasida yang banyak di pasaran, golongan menengah di antaranya ranitidine, famotidin, dan simitidin, serta golongan pomp proton inhibitor (PPI). Jika penyakit maag sudah dalam kondisi kronis seperti tukak, antisida tidak akan mempan pada kondisi ini, sebab fungsi antisida hanya mengurangi keluahan maag. Jika misalnya tetap menggunakan obat maag jenis antasida untuk lambung yang kronis, kondisinya akan lebih parah seperti mengeluarkan darah dan sebagainya. Kasus maag kronis seperti tukak dapat disembuhkan dua jenis antibiotik ditambah satu dari golongan pomp proton inhibitor dengan peluang kesembuhan diperkirakan berkisar 80 hingga 90 persen.

Betapa riskannya penyakit maag, maka perlu adanya kontrol dan kesadaran dari diri sendiri untuk mengatur pola makanan. Ada beberapa hal yang penting untuk diperhatikan dan dilakukan untuk menghindari penyakit maag pada saat puasa, yaitu :

  • Disarankan untuk memakan makanan yang manis sebagai sumber energi utama saat berbuka puasa, sebab selama berpuasa kadar gula menjadi turun
  • Disarankan untuk menghindari makanan atau minuman yang dapat memancing pengeluaran asam lambung seperti makanan berlemak, sawi, kol, nangka, kedondong atau buah yang dikeringkan serta susu, kopi, dan minuman bersoda.
  • Hindari makanan yang mengandung coklat, makanan berlemak tinggi, makanan berminyak (gorengan) yang dapat melemahkan klep kerongkongan bawah. Juga beberapa karbohidrat seperti mie, beras ketan, dan jagung
  • Berolahraga/latihan fisik meski dalam kondisi puasa namun tetap disesuaikan dengan kondisi tubuh. Olahraga sangat berfungsi untuk menjaga kebugaran tubuh dan menghilangkan stress yang menjadi pemicu maag.
  • Tidak langsung segera baring setelah sahur agar asam lambung tidak langsung naik ke kerongkongan. Makanan yang terdapat di lambung akan turun secara lancar ke dalam organ pencernaan lain saat tubuh berposisi tegak, berbeda halnya saat posisi baring akan sulit turun dan dikhawatirkan asam lambung yang naik akan menyebabkan iritasi.